Romymamahit's Blog

Asal Usul Woloan


Suasana sebuah sekolah rakyat di woloan-minahasa pada waktu jaman hindia belanda. Tampak seorang guru bersama muridnya. ( sumber :  http://archive.kaskus.us/thread/4002102 )

ASAL USUL NEGERI WOLOAN

1. TOMBULU
Menurut Cerita Minahasa maka pada waktu pembagian sisa penceraian suku bangsa dalam anak-anak suku di tempat yang bernama “Pinawetengan” maka adalah suatu rumpun/anak suku diantara anak suku lainnya yang telah meninggalkan Pinawetengan lalu menuju ke sebelah utara dan mengambil tempat di kaki gunung Lokon bagian timur. Pemimpin anak suku ini pada waktu itu ialah Walian Mapumpun, Belu dan Kakeman.
Ditempat yang baru itu banyak terdapat pohon bambu yang disebut “Wulu”. Tempat yang baru dipilihnya mengingat faktor keamanan, karena tempat yang baru itu dikelilingi oleh pohon wulu yang dijadikan tempat benteng perlindungan terhadap serangan gangguan musuh. Karena saat itu maklumlah hampir semua anak suku saling bermusuhan atau bertentangan satu sama yang lain.
Demikianlah maka sesuai dengan nama Wulu itu sehingga mereka menamai kelompok mereka sebagai anak suku bangsa Minahasa dengan nama “Tou Wulu”, kemudian Tou Wulu itu berubah sebutan/ucapan menjadi “Tombulu“. Anak suku bangsa ini menamai sekarang wilayah kecamatan Tomohon, Tombariri, Pineleng, dan sebagian Kecamatan Wori.
Kemudian sebagian dari anak suku Tombulu, dengan dipimpin oleh Walian Pukul (Keturunan dari Ahka im Banua) berpindah tempat lagi ke Najosu yang kemudian disebut “Kinilow”. Pada waktu Kinilow diperintah oleh putra dari Walian Pukul yang bernama Lumoindong, maka berjangkitlah suatu jenis penyakit sampar yang menewaskan banyak penduduk. Karena merajalelanya penyakit itu maka sebagian rakyat di pimpin oleh Ka’awoan menuju ke sebelah barat lalu pindah pada suatu tempat yang terdapat rumput yang dinamai Wariri, sehinga akhirnya orang yang menetap disana dinamai Touwariri lalu menjadi Tombariri.
Kemudian dengan dipimpin oleh Walian Lokon Mangundap, Kalele, Apor, Karundeng, Kapalaan, Posuma mereka mendirikan negeri yang baru yang dinamai “Katinggelan”.

2. KATINGGELAN
Katinggelan telah dipilih oleh Walian Lokon Mangundap dan kawan-kawanya mengingat faktor keamanan pula, karena pada masa itu terjadilah pengayauan-pengayauan (pemotongan kepala orang) “mahpupuisan” dengan maksud untuk mengadu kekuatan atau pengetahuan. Karena itu masyarakat selalu mencari tempat yang aman dan paling aman ialah di tempat ketinggian sehingga sukar didatangi musuh.
Pada kira-kira pertengahan abad ke 19, terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat/luar biasa di Minahasa menurut cerita, hal itu di sebabkan karena meletusnya gunung Lokon yang pertama kalinya akibatnya, memasak nasipun sukar, karena periuk nasipun selalu terbalik apabila dituangkan ditempatnya.
Selain itu pada saat itu, timbul suatu jenis penyakit yang menyerang penduduk, gatal gatal kemudian timbul luka-luka di seluruh badan dan penyakit itu agak sukar disembuhkan, Suatu hal yang mungkin diakibatkan karena masih kurangnya cara pengobatan pada masa itu.

3. WOLOAN
Menurut sejarah yang ada, maka pemuka-pemuka masyarakat yang mendirikan Woloan adalah :
1. Walian Pontoh
2. Tonaas Rumondor
3. Patuusan Kapoh
4. Teterusan Makal
5. Teterusan Karamoi

Dan yang dianggap sebagai pemerintah yang pertama-tama dan dapat dikatakan sebagai Kepala Desa/Hukum Tua ialah Walian Pontoh.
Untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit tersebut diatas, maka diusahakan oleh Walian untuk mengobatinya. Caranya yaitu dengan “rummages”.
Di bagian utara Katinggolan terdapat sebatang pohon yang besar maka disamping sebagai sumber air minum, maka oleh masyarakat setempat ,maka tempat itu dijadikan pula untuk tempat “raragesan” oleh para Walian. Sehingga timbulah kepercayaan rakyat bahwa barangsiapa yang menderita penyakit atau luka-luka dan mandi di mata air itu akan menjadi sembuh. Oleh karena itu maka lama kelamaan nama Katinggelan itu diganti dengan nama baru yaitu “Woloan“ yang diambil dari kata Wolo, yaitu nama sejenis pohon. Sampai sekarang tempat mata air itu masih tetap di namai Woloan,yang letaknya kurang lebih 100 meter di sebelah Utara Kelurahan Woloan sekarang. Sampai sekarang pula masyarakat Woloan masih memelihara dengan baik akan sumber mata air Woloan itu. Dan kini tempat itu dijadikan sumber air minum, apabila terjadi musim kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan semua sumur yang ada di desa menjadi kering.

4. PROSES BERDIRINYA WOLOAN SAMPAI SEKARANG INI
Desa Woloan sekarang ini didirikan pada tahun 1845 yang letaknya kurang lebih 300 meter sebelah Selatan desa/kampung tua yang bernama Katinggelan bekas desa tua oleh rakyat kini dinamai orang “NIMAWANUA”. Manusia pertama yang lahir di Desa Woloan yang baru masing-masing bernama Tingku lendeng dan Rumengan.
Pemuka –pemuka masyarakat yang mengambil bagian dari pemindahan pada waktu itu antara lain :
1. Walian Pontoh
2. Tonaas Rumondor
3. Putuusan Kapoh
4. Teterusan Makal
5. Teterusan Karamoy
Menurut cerita dari Teterusan Makal dan Karamoy mereka sudah membantu pemerintah bersama-sama dengan pemerintah Belanda dan anak suku bantik melawan orang Mangindanao (orang Spanyol yang datang dari wilayah Mindanau di Philipina) yang menyerang masuk Minahasa melalui pelabuhan Kema, dimana pada waktu itu tanah Minahasa diperintah oleh Residen Duhr.
Dapat ditambahkan bahwa pada waktu itu masyatarakat di Minahasa masih menganut kepercayaan animisme/dinamisme, yaitu kepercayaan kepada kuasa-kuasa roh-roh. Karena itu para Walian sebagai langkah pertama ialah hendak menanyakan kepada roh-roh(mungkin juga dewa-dewa) dimana tempat yang cocok dan berkenan untuk dijadikan tempat yang baru dalam bahasa tombulu upacara tersebut di sebut ”lumigau” tempat bertanya kepada roh-roh di sebut ”linigauan”.
Desa Woloan dipindahkan dari Nimawanua atau Katinggelan ke tempat yang ada sekarang karena terjadi gempa bumi yang dahsyat yang telah berlangsung selama kurang lebih sebulan lamanya yang mengakibatkan sebagian tanah di tempat yang lama itu mulai retak. Karena disebelah kiri dan kanan atau tepatnya di bagian Utara dan Selatan desa lama berupa tebing sangat dikuatirkan keselamatan penduduk pada saat gempa bumi, jangan-jangan terjadi tanah longsor yang sangat membahayakan keselamatan penduduk setempat.
Karena itu disepakatilah untuk memindahkan kampung melalui musyawarah dari tua-tua waktu itu dengan acara adat yang dinamakan ”mengalei” dengan bahasa tombulu. Lokasi yang pertama para leluhur bermohon (mengalei) untuk memindahkan kampung di belakang Gereja Katolik saat ini namun permohonan waktu itu tidak disetujui. Tatacara para leluhur saat itu dengan berkomunikasi langsung dengan kepercayaan animisme dimana saat itu burung Manguni sebagai pemberi tanda apakah disetujui permohonan tersebut atau tidak. Dan saat itu burung Manguni yang orang Woloan bilang ”o’ot” memberi tanda yang tidak baik (o’ot rawoi) yang kedengaran sampai saat ini di yakini oleh orang bahwa Woloan jika mendengar burung seperti itu kalau kita mencari daging di hutan tidak akan mendapat sebagaimana yang kita harapkan.
Kemudian mereka mencari hari yang baik yang di kenal orang Woloan ”endoh wangun” dan mengadakan acara ”mengalei” di tempat yang lain konon menurut cerita mereka mengadakan upacara di sebelah barat SD GMIM Dua Woloan Dua saat ini dan di restui.
Ketika permintaan telah dikabulkan ditempat/linigauan kedua ini telah ditandai dengan dengan tanaman lenjung merah ”Tawaang Merah” sebagai tanda bahwa tempat itu merupakan ”Si’sang Um Banua ”. Setelah pemindahan di kabulkan maka para Walian, Tonaas segera memerintahkan seluruh rakyat untuk pindah dari Nimawanua ke tempat yang baru di mana Woloan berada sekarang.

5. BUKTI BERDIRINYA DESA WOLOAN PADA TAHUN 1845.
Berdirinya desa Woloan sekarang yaitu pada tahun 1845 dapat dibenarkan oleh 2 nama yang diberikan pada dua orang yang telah lahir pada saat negeri Woloan didirikan ialah : Tingkulendeng dan Rumengan.
A) Tingkulendeng
Nama ini diambil dari nama bunyi–bunyian yang merdu kedengaranya yang di bunyikan sebagai tanda bahagia atau gembira. Pada waktu rakyat diperintahkan oleh para Walian untuk pindah tempat yang baru, maka sebagai tanda bahagia dan gembira maka oleh rakyat telah memukul(dalam bahasa tombulu” Tengku”) alat yang disebut “Tetengkoren” yang bunyinya merdu kedengarannya (bahasa tombulu: “Lengdeng”). Sementara Tetengkoren dibunyikan maka kemudian lahirlah bayi kemudian dinamai Tingkulendeng yang diambil dari istilah diatas yaitu “tengku” dan “lengdeng”
Tingkulendeng yang dibaptiskan sebagai anggota gereja protestan (GMIM) pada tanggal 18 Agustus 1967 dalam umur 22 tahun. Ini berarti bahwa tahun kalahiranya adalah tahun 1845. ketika dibaptiskan Tingkulendeng di berikan nama baru ialah : Thomas Senduk.

B) Rumengan
Setibanya mereka ditempat yang baru, maka lahirlah seorang bayi pula yang diberi nama “Rumengan”(sama-sama dimulai) artinya lahir sama-sama dengan lahirnya desa Woloan yang sekarang. Rumengan dibaptis menjadi orang Kristen pada tanggal 6 Agustus 1871 dalam usia 26 tahun yang berarti juga lahir pada tahun 1845. Rumengan diberi nama Abednedju Kilisan.
Thomas Senduk dibaptis oleh pendeta N. Graafland dan Abednedju Kilisan oleh pendeta H. Betink keduanya dari gereja Nederlandsche Zending Geneootschap(NZG). Inilah kedua bukti yang dijadikan data pegangan bahwa desa Woloan yang sekarang (Kelurahan Woloan Satu Utara,Satu, Dua, Tiga) ini telah di dirikan pada tahun 1845.

6. ADMINISTRASI PEMERINTAHAN.
Sejak berdirinya desa Woloan dari tahun 1845 sampai tahun 1970 maka pimpinan pemerintahan berada ditangan pada Tonaas, orang tua-tua desa yang disebut ” Perewis”. Mereka berfungsi sebagai kepala desa, namun tidak ada pengangkatan yang resmi.
Nanti sejak tahun 1870 pemerintahan desa Woloan dipilih/ditunjuk dengan surat keputusan/kepala distrik (kemudian disebut Kepala Kewedaan atau Hukum Besar).
Adapun para Hukum Tua berturut-turut sejak tahun 1870 yang sah dengan surat pengangkatan :
1870 F. Kojongian Dipilih
1890 J.F. Parera Ditunjuk
1895 B. Ngala Dipilih
1911 W. Andris Dipilih
1915 Elisa Kojongian Dipilih
1926 Jacob Poluan Dipilih
1935 Mozes Mongi Dipilih
1938 Eduard Kojongian Dipilih
1943 Mozez Mongi Dipilih
(masa Jepang )
1946 Eduard Kojongian Dipilih
1950 Absalom Kapoh Dipilih
1960 Weliam Tambotoh Dipilih
1961 Jos Tambotoh Ditunjuk
1962 Bastian Jocom Dipilih
1964 Anthon Kandow Dipilih
1970 Henry Pontoh Dipilih
2002 Rosevelty Kapoh Dipilih
2004 Rosevelty Kapoh Beralih status dari Desa ke Kelurahan
( Sampai Sekarang)
Hukum Tua dibantu oleh seorang Wakil (yang disebut Kepala jaga AM), anggota Dewan Desa, Kepala Jaga Polisi, Pengukur Tanah, Jurutulis Desa, Mantri Air,dan aparatur pembantu lainya.
Pada tahun 1987 penduduk desa Woloan sudah banyak dan dalammenjalankan pemerintahan sudah tidak memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat sehingga melalui LSD(Lembaga Sosial Desa), LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa). Dan Hukum Tua saat itu Henry Pontoh memekarkan Desa Woloan menjadi tiga Desa yaitu: Desa Woloan Satu, Woloan Dua dan Woloan Tiga.
Perkembangan desa tetap berjalan dengan baik dan lewat kepemimpinan tiga hukum tua menyepakati beberapa kegiatan yang tetap di jalankan bersama sama seperti setiap tanggal 17 Agustus dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI dirayakan secara bersama dengan berbagai kegitan dan digilir kepada setiap desa dengan bantuan dana dengan ungkapan “mahpalus”.
Pada tahun 2000 dengan munculnya Peraturan Menteri Dalam Negeri mengacu dari UU NO 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah maka dibentuklah lembaga baru yang membantu Hukum Tua yang di namakan BPD(Badan Derwakilan Desa) badan ini terdiri dari13 orang yang mewakili dari berbagai unsur yaitu: unsur adat, politIk, cendekiawan, agama. Mereka semua dipilih secara demokratis di kelurahan.
Saat itu Desa Woloan masih di wilayah pemerintahan Kecamatan Tomohon Kabupaten Minahasa. Pada tahun 2004 setelah di tetapkannya Kota Tomohon sebagai Kota otonom maka secara otomatis bentuk pemerintahan dari status desa akan di alihkan menjadi kelurahan sesuai dengan UU no 32 tentang Pemerintahan Daerah maka secara otomatis Desa Woloan diganti statusnya pada tanggal 19 Oktober tahun 2004 melalui surat keputusan pejabat walikota Drs Boy Tangkawarouw.
Mulai saat itu pula seluruh anggota BPD tidak lagi bekerja karna akan di ganti dengan sebutan lain LPM.

Sumber    :          http://www.facebook.com/woloan?sk=info

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan

  • romymamahit: sabar........segera menyusul linknya
  • Fia: Kaseh lagu nya Gunawan blh,yg jdulx arang tampurung & bintang kejora
  • dk: suntung batu dang..

Kategori

%d blogger menyukai ini: